GORESAN EMOSI JIWA
Diawal pembuka dengan iklasnya mengajak kita selalu bersyukur atas anugerah yang sudah kita terima dan nikmati dalam hidup ini sapa pemateri yang akrab dipanggil Pak Ya’ Dedi. Ditambahkan dengan moto yang sangat memberikan semangat :
“ Carilah ilmu sebanyak-banyaknya. Semakin banyak ilmu, kita tak akan menyalahkan orang lain.”
Wah tambah semarak paparan malam ini. Sangat lega rasanya proses menyimak malam ini, bagaimana tidak seperti itu, emosi rangkaian yang digelombangkan Pak Ya’Dedi sangatlah menzunami aliran darah jiwa ini.
Ku coba merajut
deretan bahasan yang diuraikan oleh Pak Ya’ Dedi sebagai penyemangat rasa ingin
tahu, dan rasa penasaran yang bercampur dengan rasa jengah ingin seperti mereka
para motivator kami di grup belajar menulis gelombang 16 ini. Setelah berjalan
dua jam tiada terasa waktu bercerita tentang kiat-kiat sukses memulai menulis. Ku
coba memajang dalam deretan kalimat yang sudah terekam memori ini, walau
kusadari masih harus banyak belajar mengurai isi pikiran orang menjadi
sekelompok kata.
Emosi Jiwa Kreasi
Ditambah dari pengalaman pribadi di mana pernah ada
turbulensi hidup,walau tidak begitu berat saat itu, mencoba mencari beberapa cara untuk menghadapi kondisi
tersebut. Emosi yang aku keluarkan seringkali jadi negatif, meski maksud
awalnya baik. Hingga akhirnya aku sadar bahwa emosi yang ada di dalam diriku
lebih baik disalurkan melalui hal yang lebih berfaedah seperti menulis.
Tetapi sering kali tulisan yang sudah ku buat sudah tersimpan dilaptop termakan lupa. Hanya menghias deretan data yang tidak terusik oleh rasa malas jiwa ini. Lama itu terjadi dan berlalu, bukan hanya sehari itu, tetapi tahunan tanpa ada rindu untuk melanjutkan kembali. Dan atas tidak kepedulian hati ini , aku perlahan paham bahwa :
Emosi itu tidak pernah salah, tapi terkadang waktu untuk meluapkannya yang tidak tepat.
Ku coba memahami zaman modern ini banyak orang yang sering
mengemukakan emosinya lewat tulisan. Sayangnya terkadang tertuang di media yang
kurang tepat di mana tidak ada filterisasi bahasa, salah satunya media sosial.
Banyak orang mengeluarkan kekesalannya di media sosial kemudian malah
menciptakan drama pertentangan. Jika ingin diungkapkan di media sosial, baiknya
ditinjau ulang tutur bahasanya agar tidak terkesan menggurui apalagi menyerang.
Cara sederhana untuk
mencurahkan emosi kita. Perlu diingat bahwa emosi ada yang negatif seperti
marah, sedih atau takut dan ada juga yang positif yaitu bahagia, excited, dan
tenang. Ketika kita menuliskan di secarik kertas kita bisa meninjau kembali
emosi yang sebenarnya dirasakan. Apakah itu emosi negatif atau positif.
Dari situ kita bisa
mengerti lebih dalam setelah dibaca ulang dengan kepala dingin sehingga kita
bisa fokus ke solusinya dan tidak terjebak dalam pemicu emosi-emosi tersebut.
Menulis buku puisi, cerpen, paragraf merupakan cara
sederhana untuk dapat mencurahkan emosi kita karena saat menulisnya kita bisa meninjau
kembali emosi yang sebenarnya dirasakan.
Sederhananya, sedih itu emosi dan bukan hal yang salah. Justru harus dikeluarkan. Bisa lewat menangis, menulis surat atau kegiatan berfaedah lainnya. Kalau hanya dipendam, suatu saat bisa meledak dan berdampak buruk untuk diri sendiri bahkan orang lain. Merasakan kesedihan itu tidak salah, terlebih sembari mendengarkan lagu yang sesuai perasaan, berulang-ulang.
Nikmati prosesnya apapun itu asal tidak
berlarut dan membiarkan diri tenggelam dalam satu emosi saja. Kita harus ingat
untuk kembali pada realita cepat atau lambat. Ketika kita bisa menelaah pemicu
emosi kita dengan kepala dingin, solusi akan lebih mudah didapat :
Sedih itu emosi dan
bukan hal yang salah. Justru harus dikeluarkan.
Jadi aku berpikir
sejenak bahwa memaknai kunci keberhasilan seorang penulis itu ada pada menciptakan semangat, motivasi, kemauan,
usaha, konsistensi, ya pastinya jangan lupa untuk berdoalah memohon kemudahan,
bimbingan, kesehatan, kecerdasan, dan seterusnya.
Wah, aliran
semangat motivasi Pak Ya’ Dedi semakin memberi inspirasi banget, dengan
celotehan jangan lupa mencari teman yang
bisa menginspirasi, mendorong, dan memberi semangat. Itu dia contohnya Pak
Wijaya Kusuma yang sering dan akrab dengan sapaan Omjay.
Ngomongin emosi aku jadi berpikir, wah
emosi itu kan perasaan yang mendalam, berupa perasaan senang, sedih, marah dan
sebagainya. Jadi ya gak ada salahnya kita emosi.
Malah terbukti, orang yang gak biasa
menulis, tiba-tiba lancar menulis pas sedang emosi. Kalau begitu, sebetulnya
emosi itu energi yang bisa kita ”peralat”untuk memicu produktifitas dan
dikendalikan agar tetap mengarah ke hal-hal yang konstruktif dan kreatif.
Jangan emosi yang negatiflah itu emosi sudah menjelma menjadi emosional.
Perasaan mendalam itu akan semakin dalam dan terasa menusuk-nusuk hati dan
menyesakkan dada. Kalau sudah begini, emosi bisa gak terkendali alias
tanpa didasari obyektifitas dan bahkan bisa menimbulkan ledakan. Ia akan muncul
sebagai ucapan sumpah serapah, makian, histeria, dan nada-nada sumbang lainnya.
Bisa juga menjelma sebagai tulisan yang susunan kalimatnya tidak tertata dan
absurd.
Emosi menulis atau melibatkan emosi ketika
menulis, jelas dibutuhkan, begitulah luapan motivasi Pak Yak’ Dedi selanjutnya.
Karena ini akan membuat setiap kata
menjadi berdaya. Menulis emosi atau menuliskan sesuatu ketika sedang emosi,
biasanya akan semakin menyeret penulisnya ke suasana emosional yang berakibat
pada tertumpahnya kata-kata yang tidak seperti biasanya.
Maka menulis emosi sebetulnya ada
baiknya juga. Yaitu "kelancaran" dalam menulis. Cuma yang perlu
diperhatikan, tulisan seperti ini akan lebih baik kalau tidak buru-buru unggah
(dipublish) karena hanya akan merusak citra diri sang penulis dan kurang
bermanfaat bagi orang lain. Sebaiknya tulisan seperti ini disimpan dulu dalam
catatan pribadi dan kelak bisa diedit menjadi tulisan yang lebih indah dan berdaya
guna.
Seakan tidak
mau lepas ku simak lebih lanjut deretan zunami motivasi sang pemateri yang
dituturkan bahwa latihan menulis buku dapat diawali dengan cara menuliskan
tulisan pendek, menuliskan kegelisahan, menuliskan sesuatu yang
disukai/hobi/minat, menuliskan pengalaman, keahlian, impian, kebutuhan orang
lain.
Juga dituturkan bisa berupa opini satu paragraf, dua paragraf atau tiga paragraf. Hari berikutnya, bisa ditambah satu paragraf lagi, sehingga menjadi kumpulan paragraf.
Membangun roh tulisan itu sangatlah juga penting, perlu penghayatan. Kita harus memahmi bahwa Ide yang mula-mulanya biasa-biasa saja jika dikemas dengan penghayatan dan penjiwaan pembaca akan muncul emosinya, yang akan mejadi mumbu dan aroma ketertarikan pembaca tulisan kita. Tulisan yang dikemas dari hasil penghayatan akan lebih membangun lebih hidup dan bermakna.
Menulis Itu Semudah Memperbaharui
(Update) Status
Ini dia yang
tidak pernah terbayang dalam benak ku selama ini, dan yang perlu kita tanamkan
dalam diri adalah “ menulis mudah, semudah update status”. Apa benar ya, bahwa
menulis itu semudah itu, kembali emosi jiwa ini berguman berperang melawan
ketidakyakinan diri ini. Mungkin ada juga benarnya bahkan memang itu benar
adanya, kupikir sambil membayang. Ini tangan sering asyik menjajah
tombol-tombol ketik menguggah status di
FB, di WA ataupun media social laiinya bisa, kenapa menguraikan rangkaian kata
tidak bisa, tambah seloroh semangat yang kian bangkit tidak lagi selalu memanja
diri dengan berpangku tangan. Kian berlari pikiran optimis jiwa ini yang sering
melontarkan, aduhh menulis itu susah. Ujung dari itu perlu pemahaman yang benar menulis
itu jangan dianggap susah dan membebani diri sendiri.
Ekspresi yang tertuang dalam kalimat pendek atau mengunggah sesuatu di whatsahp khususnya, menulis sesuatu di whatshap itu pula sebenarnya melakukan kegiatan tulis menulis, pikir ku sambil menambah tebalnya keyakinan bahwa menulis itu gampang.
Ya betul
gumanku lebih kanjut, menulis itu kegiatan proses mendeskripsikan apa yang kita
lihat, apa yang dirasakan.
Sering tangan ini mencibir catatan
kecil di buku kecil atau dalam lemaran kertas yang tidak tersalurkan. Berlalu
membisu tiada pesan seakan jauh dari makna yang sudah ada di dalamnya. Menulis itu selalu rumit. Menulis itu,
sesederhana yang kita lihat.
Yang menjadi objek boleh hanya satu, namun sudut pandang (point of view) penulisannya bisa berbeda antara penulis satu dengan penulis yang lainnya. Aduh gampang banget sebenarnya celoteh bibir ini dalam hati. Kalau begini semua orang pasti bisa menulis kan ?. Tambah seloroh guman pikiran ini lebih lanjut, aku pasti bisa dan bisa, tambah keyakinan diri lagi.
Menentukan Topik Tulisan Menulis Buku
Ini dia yang
patut dan perlu kita prhatikan juga sebelum memulai dalam membuat goresan pena
indah kita. Saat memulai menulis, hal umum yang dirasa sulit adalah menentukan
topik tulisan. Topik yang kita pilih
berdasarkan ya pastinya sesuai dengan “minat” kita.
Kalau tidak
berminat mana mungkin bisa aliran pikiran mengurai dan terajut jalinan kata satu
dengan yang yang lainnya.
Ini misalnya
ketika kita membaca surat kabar, ada satu paragraf yang menarik hati, kita
lakukan dengan membuat catatan kecil sebagai kata pengingat untuk membantu saat
memulai mettrangkai iringan kata dalam tulisan kita. Sudah barang tentu tambahi
dengan gagasan, ide, sanggahan, menambahi data lain yang diperoleh sebelumnya
atau yang sudah tersimpan di bank catatan kita.
Catatan data-data
tersebut, cukup tuliskan per kalimat di bawahnya sampai semua gagasan, ide, dan yang ingin disampaikan
sudahmenjadi rangkaian berbaris-baris kalimat.
Banyak hal
yang bisa kita gali dan kembangkan dalam perencanaan menulis, topik bisa
dimulai dari menulis kehidupan diri kita sendiri, justru lebih menjiwai, Karena kita sendiri
yang mengalami sendiri. Pastinya bila sudah dengan trik-trik di atas sudah
dilalui, biasanya akan lahir dengan sendiri ulasan yang ingin kita sampaikan. Pak Ya’ Dedi lanjut menyemangati “ Kunci dari keberhasilan semua itu, tergantung kreativitas kita
mengarahkan tema dan topik bahasan.
Tujuan Menulis
Yang ku tahu menulis itu
sebuah keterampilan yang diperoleh karena kebiasaan, yang sangat berkaitan
dengan membaca. Kita akan mampu
menghasilkan sebuah tulisan yang bermakna, tentu didahului dengan kegiatan
membaca. Kegiatan ini hendaklah dibiasakan sejak kecil, sehingga kelak akan
menjadi suatu budaya, yaitu budaya baca-tulis yang baik. Ya ini yang
sering bermasalah membiasakan diri berliterasi, budaya baca kita masih rendah
sehingga mempengaruhi kemampuan kita dalam menulis. Padahal tulisan- tulisan
yang dihasilkan dapat berupa fiksi, seperti: cerpen atau puisi; atau nonfiksi.
Jangan lupa,
menulis juga harus punya tujuan. Misalnya, saya menulis tujuannya untuk
ekspresi diri, untuk naik pangkat, untuk hobi, dan sebagainya. Dengan tujuan
tersebut, pasti segala cara akan kita gunakan.
Ketika kita menulis, tentu ada tujuan yang kita harapkan dari
tulisan yang kita buat. Dari tujuan-tujuan itu, kita juga berharap akan meraih manfaat, baik bagi diri penulis maupun
orang lain yang membaca tulisan kita. Sebagai sarana seseorang menuangkan
idenya melalui tulisan, terkadang tidak hanya memiliki satu tujuan namun
terkadang mengharapkan beraneka tujuan melalui ide-idenya yang tertata melalui
tulisan.
Misalnya ada beberapa
tujuan dari menulis :
1) Tujuan Ideologis, diperuntukkan bagi penulis yang berkeyakinan
untuk mempengaruhi orang lain. Penulis yang bertujuan ideologis tidak peduli
apakah tulisannya dibayar atau tidak, di-like atau tidak.
Baginya, yang dipentingkan adalah mampu menyalurkan ideologinya melalui tulisan
untuk mempengaruhi orang lain yang membaca tulisannya.
2) Tujuan Akademis, penulis yang memiliki tujuan seperti ini
adalah mereka yang terikat oleh kegiatan dan aturan yang bersifat
akademis.
3)Tujuan Ekonomis, yaitu tulisan yang
bertujuan untuk mendapatkan nilai ekonomis. Penulis seperti ini menjadikan
kegiatan tulis-menulis sebagai sebuah profesi.
4)Tujuan Chatarsis, yaitu kegiatan
tulis-menulis yang bertujuan untuk menyalurkan emosi diri penulisnya. Penulis akan
merasakan kegembiraan jika kesedihan, kebahagiaan, atau kesenangannya diketahui
oleh orang lain melalui tulisannya.
5)Tujuan Politik, penulis yang memiliki tujuan politis akan
menjadikan tulisannya terkait event politik praktis atau sekadar pendidikan
politik bagi masyarakat pembacanya.
6) Tujuan Pedagogis, yaitu bertujuan untuk mendidik, mengedukasi
orang lain. Misalnya; tentang gaya hidup, tips kesehatan, dsb.
7) Tujuan Medis, yaitu bahwa kegiatan menulis diyakini mampu
menjadikan sebagai terapi untuk kesehatan. Melalui kegiatan menulis,
diyakini tidak hanya penyakit psikis tetapi juga berbagai penyakit fisik bisa
disembuhkan.
8) Tujuan Pragmatis, yaitu kegiatan tulis-menulis yang dilakukan
agar penulis menjadi orang yang terkenal, atau karena tuntutan tugas yang
menghendakinya harus menulis.
Pemilihan Kata ( Diksi )
Bagaimana
cara memilih diksi agar tulisan saya
menjadi hidup dan penuh penghayatan
Berangkat dari kisah yang menarik yang pernah kita alami. Dengan kisah tersebut tentunya kita akan menghayati karena kita alami sendiri. Gunakan kata-kata sederhana terlebih dahulu. Setelah tulisan selesai beberapa paragraf, kita lihat dan bisa diedit. Apakah sudah tepat diksi atau belum. Cerita boleh sama, tapi cara pandang, tentunya berbeda.
Jadi, diksi
atau pilihan kata sangat penting di dalam proses menulis. Diksi memegang
peranan utama dalam menciptakan nuansa makna yang dikehendaki penulis. Pemilihan
kata yang kurang tepat, dapat menimbulkan makna yang berbeda, dan selanjutnya
pesan tidak bisa tersampaikan. “Pemilihan kata yang baik harus memenuhi
ketentuan tepat, benar, dan lazim,” ujar Pak Ya’Dedi lebih lanjut.
Mencari Teman
Dalam pergaulan, kita pasti setuju bahwa kita perlu berteman
dengan sebanyak mungkin orang. "Seribu teman kurang, tapi satu musuh
terlalu banyak" begitu kata ungkapan terkenal.
Artinya, kita tidak perlu ragu untuk menjalin pertemanan
dengan siapa saja, asalkan orangnya memang baik. Begitu juga dalam
menulis, tambah Pak Ya’ Dedi.
Menemukan teman dan
memiliki teman yang sudah berhasil didunia tulis menulis, menjadikan kita bisa
mengikuti, meniru dan memodifikasi gaya dan cara dia menulis sebutlah dengan
cara amati, tiru dam modifiksi (ATM), yang selanjutnya dapat kita padukan
dengan gaya kita sendiri, kebiasaan kita dalam emulia dan cara kita sendiri
dalam menulis. Dengan banyak teman kita menambah ilmu diri kita sendiri.
Memiliki Motivasi dan Kemauan.
1) Motivasi
adalah langkah pertama ke arah pencapaian.
Motivasi adalah kunci yang membuka pintu untuk
menuju pencapaian kita. Motivasi adalah apa yang membuat Anda mulai melangkah,
sedangkan komitmen adalah apa yang membuat kita terus melangkah.
Sekelompok team sales yang dimotivasi biasanya pencapaiannya
lebih tinggi dibanding para sales yang hanya dibiarkan jalan
sendiri. Seorang penulis yang memiliki motivasi belajar tentu lebih baik
dibanding tidak memiliki motivasi. Begitu juga dalam menulis dengan penuh
motivasi yang tinggi tentu lebih baik dibanding hanya dengan motivasi yang rendah.
2) Motivasi
meningkatkan kemauan.
Orang biasanya gagal bukan karena kurang kemampuan
atau kurang pengetahuan, melainkan biasanya karena kurang kemauan. Dengan
adanya motivasi dalam diri seseorang maka kemauan seseorang dapat ditingkatkan.
Orang-orang yang cukup termotivasi biasanya akan menemukan kekuatan kemauan
muncul dalam diri mereka. Kemauan yang kuat ini akan menjadi dorongan yang kuat
dalam untuk mencapai sukses dalam menulis.
3) Motivasi
memberikan tenaga ekstra.
Kita sering menyebut orang lain bertenaga tinggi
atau bertenaga rendah berdasarkan seberapa banyaknya hal yang mereka lakukan.
Menurut saya mungkin lebih tepat jika kita menyebutkan mereka mempunyai
motivasi tinggi atau motivasi rendah. Jika Anda mempunyai motivasi, Anda pasti
mempunyai tenaga ekstra. Motivasi memberi Anda kekuatan untuk melakukan banyak
hal. Motivasi adalah alasan mengapa selalu ada hal-hal yang saya ingin
kerjakan, orang-orang yang saya ingin temui, dan sasaran-sasaran yang ingin
saya capai.
4) Motivasi
adalah dasar untuk keunggulan.
Motivasi bisa mengubah seseorang dari keadaan
biasa-biasa menjadi unggul. Saat kita menemukan tujuan hidup, kita menemukan
motivasi. Dan saat kita menemukan motivasi, kita bisa mencapai keunggulan.
5) Motivasi
adalah kunci menuju keberhasilan.
Saya meyakini api motivasi dalam diri manusia
menjadikan hal mendasar untuk mencapai
keberhasilan. Kita dapat melihat bagaimana para penulis yang sukses melakoni
kegiatan menulisnya, biasanya motivasi adalah salah satu faktor di balik
keberhasilan mereka.
Itulah deretan makna yang dapat saya singkap pada kuliah kali ketiga grup belajar menulis gelombang ke-16 ini. Sungguh memberi warna tersendiri dalam kegiatan pemula mau menjadi seorang penulis.

Keren banget! Resume yang lengkap dan mantap. Sukses, Pak!
BalasHapusTerima kasih sudah mengerjakan tugasnya dengan sangat baik
BalasHapusmksi semangat Omjay. dorongan dan motivasi omjay tetap saya harapkan. mksi Omjay
HapusKereeen resumenya, impresi sudah ikutan di dlmya...
BalasHapusTp hati2 ada kata yg salah ketik dan bikin senyum2 sendiri bacanya...
Semangat kita sukses bersama
Top puanjaaang,,, bagus, salam sukses
BalasHapusMantapz bgt pa.. sy sangaat suka bacanya
BalasHapusBagus sekali resumenya, lengkap
BalasHapusKomplit jelas rapi👋 keren 👍
BalasHapusresumenya menggores relung hati
BalasHapus