GORESAN EMOSI JIWA


Kuliah Online kali ini tidaklah    kalah pentingnya dari            sebelumnya, Bapak Ya’ Dedi      Suhendi. Beliau ini kelahiran    Pontianak, 2 November 1975,    bertugas di SD Negeri 11        Pontianak Timur. Berlatar           
belakang Magister Pendidikan    Bahasa Indonesia. Tinggal di      Jalan Sui Raya Dalam Komp.    Bumi Batara I B/35. 
Yang dimoderatori oleh bunda Sri Kanjeng. Dekapan sang pemateri kali ini mengalir bak air, jemari yang lincah dan lancar menyapa papan laptop atau gawai yang sedang digunakan memberikan materi kuliah pada pertemuan ketiga kali ini.

Diawal pembuka dengan iklasnya mengajak kita selalu bersyukur atas anugerah yang sudah kita terima dan nikmati dalam hidup ini sapa pemateri yang akrab dipanggil Pak Ya’ Dedi. Ditambahkan dengan moto yang sangat memberikan semangat :

Carilah ilmu sebanyak-banyaknya. Semakin banyak ilmu, kita tak akan menyalahkan orang lain.”

Wah tambah semarak paparan malam ini. Sangat lega rasanya proses menyimak malam ini, bagaimana tidak seperti itu, emosi rangkaian yang digelombangkan Pak Ya’Dedi sangatlah menzunami  aliran darah jiwa ini.

Ku coba merajut deretan bahasan yang diuraikan oleh Pak Ya’ Dedi sebagai penyemangat rasa ingin tahu, dan rasa penasaran yang bercampur dengan rasa jengah ingin seperti mereka para motivator kami di grup belajar menulis gelombang 16 ini. Setelah berjalan dua jam tiada terasa waktu bercerita tentang kiat-kiat sukses memulai menulis. Ku coba memajang dalam deretan kalimat yang sudah terekam memori ini, walau kusadari masih harus banyak belajar mengurai isi pikiran orang menjadi sekelompok kata.

Emosi Jiwa Kreasi

Ditambah  dari pengalaman pribadi di mana pernah ada turbulensi hidup,walau tidak begitu berat saat itu, mencoba  mencari beberapa cara untuk menghadapi kondisi tersebut. Emosi yang aku keluarkan seringkali jadi negatif, meski maksud awalnya baik. Hingga akhirnya aku sadar bahwa emosi yang ada di dalam diriku lebih baik disalurkan melalui hal yang lebih berfaedah seperti menulis.

Tetapi sering kali tulisan yang sudah ku buat sudah tersimpan dilaptop termakan lupa. Hanya menghias deretan data yang tidak terusik oleh rasa malas jiwa ini. Lama itu terjadi dan berlalu, bukan hanya sehari itu, tetapi tahunan tanpa ada rindu untuk melanjutkan kembali. Dan atas tidak kepedulian hati ini , aku perlahan paham bahwa :

Emosi itu tidak pernah salah, tapi terkadang waktu untuk meluapkannya yang tidak tepat.

Ku coba memahami  zaman modern ini banyak orang yang sering mengemukakan emosinya lewat tulisan. Sayangnya terkadang tertuang di media yang kurang tepat di mana tidak ada filterisasi bahasa, salah satunya media sosial. Banyak orang mengeluarkan kekesalannya di media sosial kemudian malah menciptakan drama pertentangan. Jika ingin diungkapkan di media sosial, baiknya ditinjau ulang tutur bahasanya agar tidak terkesan menggurui apalagi menyerang.


Cara sederhana untuk mencurahkan emosi kita. Perlu diingat bahwa emosi ada yang negatif seperti marah, sedih atau takut dan ada juga yang positif yaitu bahagia, excited, dan tenang. Ketika kita menuliskan di secarik kertas kita bisa meninjau kembali emosi yang sebenarnya dirasakan. Apakah itu emosi negatif atau positif.

Dari situ kita bisa mengerti lebih dalam setelah dibaca ulang dengan kepala dingin sehingga kita bisa fokus ke solusinya dan tidak terjebak dalam pemicu emosi-emosi tersebut.


Menulis buku puisi, cerpen, paragraf merupakan cara sederhana untuk dapat mencurahkan emosi kita karena saat menulisnya kita bisa meninjau kembali emosi yang sebenarnya dirasakan.


Sederhananya, sedih itu emosi dan bukan hal yang salah. Justru harus dikeluarkan. Bisa lewat menangis, menulis surat atau kegiatan berfaedah lainnya. Kalau hanya dipendam, suatu saat bisa meledak dan berdampak buruk untuk diri sendiri bahkan orang lain. Merasakan kesedihan itu tidak salah, terlebih sembari mendengarkan lagu yang sesuai perasaan, berulang-ulang. 


Nikmati prosesnya apapun itu asal tidak berlarut dan membiarkan diri tenggelam dalam satu emosi saja. Kita harus ingat untuk kembali pada realita cepat atau lambat. Ketika kita bisa menelaah pemicu emosi kita dengan kepala dingin, solusi akan lebih mudah didapat :

Sedih itu emosi dan bukan hal yang salah. Justru harus dikeluarkan.

Jadi aku berpikir sejenak bahwa memaknai kunci keberhasilan seorang penulis itu ada pada  menciptakan semangat, motivasi, kemauan, usaha, konsistensi, ya pastinya jangan lupa untuk berdoalah memohon kemudahan, bimbingan, kesehatan, kecerdasan, dan seterusnya.


Wah, aliran semangat motivasi Pak Ya’ Dedi semakin memberi inspirasi banget, dengan celotehan jangan lupa  mencari teman yang bisa menginspirasi, mendorong, dan memberi semangat. Itu dia contohnya Pak Wijaya Kusuma yang sering dan akrab dengan sapaan Omjay.


Ngomongin emosi aku jadi berpikir, wah emosi itu kan perasaan yang mendalam, berupa perasaan senang, sedih, marah dan sebagainya. Jadi ya gak ada salahnya kita emosi.


Malah terbukti, orang yang gak biasa menulis, tiba-tiba lancar menulis pas sedang emosi. Kalau begitu, sebetulnya emosi itu energi yang bisa kita ”peralat”untuk memicu produktifitas dan dikendalikan agar tetap mengarah ke hal-hal yang konstruktif dan kreatif. 


Jangan emosi yang negatiflah itu  emosi sudah menjelma menjadi emosional. Perasaan mendalam itu akan semakin dalam dan terasa menusuk-nusuk hati dan menyesakkan dada. Kalau sudah begini, emosi bisa gak terkendali alias tanpa didasari obyektifitas dan bahkan bisa menimbulkan ledakan. Ia akan muncul sebagai ucapan sumpah serapah, makian, histeria, dan nada-nada sumbang lainnya. Bisa juga menjelma sebagai tulisan yang susunan kalimatnya tidak tertata dan absurd. 


Emosi menulis atau melibatkan emosi ketika menulis, jelas dibutuhkan, begitulah luapan motivasi Pak Yak’ Dedi selanjutnya.

Karena ini akan membuat setiap kata menjadi berdaya. Menulis emosi atau menuliskan sesuatu ketika sedang emosi, biasanya akan semakin menyeret penulisnya ke suasana emosional yang berakibat pada tertumpahnya kata-kata yang tidak seperti biasanya.


Maka menulis emosi sebetulnya ada baiknya juga. Yaitu "kelancaran" dalam menulis. Cuma yang perlu diperhatikan, tulisan seperti ini akan lebih baik kalau tidak buru-buru unggah (dipublish) karena hanya akan merusak citra diri sang penulis dan kurang bermanfaat bagi orang lain. Sebaiknya tulisan seperti ini disimpan dulu dalam catatan pribadi dan kelak bisa diedit menjadi tulisan yang lebih indah dan berdaya guna.

Seakan tidak mau lepas ku simak lebih lanjut deretan zunami motivasi sang pemateri yang dituturkan bahwa latihan menulis buku dapat diawali dengan cara menuliskan tulisan pendek, menuliskan kegelisahan, menuliskan sesuatu yang disukai/hobi/minat, menuliskan pengalaman, keahlian, impian, kebutuhan orang lain.

Juga dituturkan bisa berupa opini satu paragraf, dua paragraf atau tiga paragraf. Hari berikutnya, bisa ditambah satu paragraf lagi, sehingga menjadi kumpulan paragraf.

Membangun roh tulisan itu sangatlah juga penting, perlu penghayatan. Kita harus memahmi bahwa Ide yang mula-mulanya  biasa-biasa saja jika dikemas dengan penghayatan dan penjiwaan pembaca akan muncul emosinya, yang akan mejadi mumbu dan aroma ketertarikan pembaca tulisan kita. Tulisan yang dikemas dari hasil penghayatan akan lebih membangun lebih hidup dan bermakna.

Menulis Itu Semudah Memperbaharui (Update) Status

Ini dia yang tidak pernah terbayang dalam benak ku selama ini, dan yang perlu kita tanamkan dalam diri adalah “ menulis mudah, semudah update status”. Apa benar ya, bahwa menulis itu semudah itu, kembali emosi jiwa ini berguman berperang melawan ketidakyakinan diri ini. Mungkin ada juga benarnya bahkan memang itu benar adanya, kupikir sambil membayang. Ini tangan sering asyik menjajah tombol-tombol ketik  menguggah status di FB, di WA ataupun media social laiinya bisa, kenapa menguraikan rangkaian kata tidak bisa, tambah seloroh semangat yang kian bangkit tidak lagi selalu memanja diri dengan berpangku tangan. Kian berlari pikiran optimis jiwa ini yang sering melontarkan, aduhh menulis itu susah. Ujung  dari itu perlu pemahaman yang benar menulis itu jangan dianggap susah dan membebani diri sendiri.

Ekspresi yang tertuang dalam kalimat pendek atau mengunggah sesuatu di whatsahp khususnya, menulis sesuatu di whatshap itu pula sebenarnya melakukan kegiatan tulis menulis, pikir ku sambil menambah tebalnya keyakinan bahwa menulis itu gampang.

Ya betul gumanku lebih kanjut, menulis itu kegiatan proses mendeskripsikan apa yang kita lihat, apa yang dirasakan.

Sering tangan ini mencibir catatan kecil di buku kecil atau dalam lemaran kertas yang tidak tersalurkan. Berlalu membisu tiada pesan seakan jauh dari makna yang sudah ada di dalamnya.  Menulis itu selalu rumit. Menulis itu, sesederhana yang kita lihat.

Yang menjadi objek boleh hanya satu, namun sudut pandang (point of view) penulisannya bisa berbeda antara penulis satu dengan penulis yang lainnya. Aduh gampang banget sebenarnya celoteh bibir ini dalam hati. Kalau begini  semua orang pasti bisa menulis kan ?. Tambah seloroh guman pikiran ini lebih lanjut, aku pasti bisa dan bisa, tambah keyakinan diri lagi.

 

Menentukan Topik Tulisan Menulis Buku

Ini dia yang patut dan perlu kita prhatikan juga sebelum memulai dalam membuat goresan pena indah kita. Saat memulai menulis, hal umum yang dirasa sulit adalah menentukan topik tulisan. Topik yang  kita pilih berdasarkan ya pastinya sesuai dengan “minat” kita.

Kalau tidak berminat mana mungkin bisa aliran pikiran mengurai dan terajut jalinan kata satu dengan yang yang lainnya.

Ini misalnya ketika kita membaca surat kabar, ada satu paragraf yang menarik hati, kita lakukan dengan membuat catatan kecil sebagai kata pengingat untuk membantu saat memulai mettrangkai iringan kata dalam tulisan kita. Sudah barang tentu tambahi dengan gagasan, ide, sanggahan, menambahi data lain yang diperoleh sebelumnya atau yang sudah tersimpan di bank catatan kita.

Catatan data-data tersebut, cukup tuliskan per kalimat di bawahnya sampai semua gagasan, ide, dan yang ingin disampaikan sudahmenjadi rangkaian berbaris-baris kalimat.

Banyak hal yang bisa kita gali dan kembangkan dalam perencanaan menulis, topik bisa dimulai dari menulis kehidupan diri kita sendiri,  justru lebih menjiwai, Karena kita sendiri yang mengalami sendiri. Pastinya bila sudah dengan trik-trik di atas sudah dilalui, biasanya akan lahir dengan sendiri ulasan yang ingin kita sampaikan. Pak Ya’ Dedi lanjut menyemangati “ Kunci dari keberhasilan semua itu, tergantung kreativitas kita mengarahkan tema dan topik bahasan.

 

Tujuan Menulis

Yang ku tahu menulis itu sebuah keterampilan yang diperoleh karena kebiasaan, yang sangat berkaitan dengan membaca. Kita  akan mampu menghasilkan sebuah tulisan yang bermakna, tentu didahului dengan kegiatan membaca. Kegiatan ini hendaklah dibiasakan sejak kecil, sehingga kelak akan menjadi suatu  budaya, yaitu budaya baca-tulis yang baik. Ya ini yang sering bermasalah membiasakan diri berliterasi, budaya baca kita masih rendah sehingga mempengaruhi kemampuan kita dalam menulis. Padahal tulisan- tulisan yang dihasilkan dapat berupa fiksi, seperti: cerpen atau puisi; atau nonfiksi.

Jangan lupa, menulis juga harus punya tujuan. Misalnya, saya menulis tujuannya untuk ekspresi diri, untuk naik pangkat, untuk hobi, dan sebagainya. Dengan tujuan tersebut, pasti segala cara akan kita gunakan.

Ketika kita menulis, tentu ada tujuan yang kita harapkan dari tulisan yang kita buat. Dari tujuan-tujuan itu, kita juga berharap akan meraih manfaat, baik bagi diri penulis maupun orang lain yang membaca tulisan kita. Sebagai sarana seseorang menuangkan idenya melalui tulisan,  terkadang tidak hanya memiliki satu tujuan namun terkadang mengharapkan beraneka tujuan melalui ide-idenya yang tertata melalui tulisan.


Misalnya ada beberapa tujuan dari menulis :


1) Tujuan Ideologis, diperuntukkan bagi penulis yang berkeyakinan untuk mempengaruhi orang lain. Penulis yang bertujuan ideologis tidak peduli apakah tulisannya dibayar atau tidak, di-like atau tidak. Baginya, yang dipentingkan adalah mampu menyalurkan ideologinya melalui tulisan untuk mempengaruhi orang lain  yang membaca tulisannya.


2) Tujuan Akademis, penulis yang memiliki tujuan seperti ini adalah mereka yang terikat oleh kegiatan dan aturan yang bersifat akademis. 


3)Tujuan Ekonomis, yaitu tulisan yang bertujuan untuk mendapatkan nilai ekonomis. Penulis seperti ini menjadikan kegiatan tulis-menulis sebagai sebuah profesi.


4)Tujuan Chatarsis, yaitu kegiatan tulis-menulis yang bertujuan untuk menyalurkan emosi diri penulisnya. Penulis akan merasakan kegembiraan jika kesedihan, kebahagiaan, atau kesenangannya diketahui oleh orang lain melalui tulisannya. 


5)Tujuan Politik, penulis yang memiliki tujuan politis akan menjadikan tulisannya terkait event politik praktis atau sekadar pendidikan politik bagi masyarakat pembacanya.


6) Tujuan Pedagogis, yaitu bertujuan untuk mendidik, mengedukasi orang lain. Misalnya; tentang gaya hidup, tips kesehatan, dsb.


7) Tujuan Medis, yaitu bahwa kegiatan menulis diyakini mampu menjadikan sebagai terapi  untuk kesehatan. Melalui kegiatan menulis, diyakini tidak hanya penyakit psikis tetapi juga berbagai penyakit fisik bisa disembuhkan.


8) Tujuan Pragmatis, yaitu kegiatan tulis-menulis yang dilakukan agar penulis menjadi orang yang terkenal, atau karena tuntutan tugas yang menghendakinya harus menulis.


 

Pemilihan Kata ( Diksi )

Bagaimana cara memilih diksi agar tulisan  saya menjadi hidup dan penuh penghayatan

Berangkat dari kisah yang menarik yang pernah kita alami. Dengan kisah tersebut tentunya kita akan menghayati karena kita alami sendiri. Gunakan kata-kata sederhana terlebih dahulu. Setelah tulisan selesai beberapa paragraf, kita lihat dan bisa diedit. Apakah sudah tepat diksi atau belum. Cerita boleh sama, tapi cara pandang, tentunya berbeda. 

Jadi, diksi atau pilihan kata sangat penting di dalam proses menulis. Diksi memegang peranan utama dalam menciptakan nuansa makna yang dikehendaki penulis. Pemilihan kata yang kurang tepat, dapat menimbulkan makna yang berbeda, dan selanjutnya pesan tidak bisa tersampaikan. “Pemilihan kata yang baik harus memenuhi ketentuan tepat, benar, dan lazim,” ujar Pak Ya’Dedi lebih lanjut.

 

Mencari Teman

Dalam pergaulan, kita pasti setuju bahwa kita perlu berteman dengan sebanyak mungkin orang. "Seribu teman kurang, tapi satu musuh terlalu banyak" begitu kata ungkapan terkenal.

Artinya, kita tidak perlu ragu untuk menjalin pertemanan dengan siapa saja, asalkan orangnya memang baik. Begitu juga dalam menulis, tambah Pak Ya’ Dedi.

Menemukan teman dan memiliki teman yang sudah berhasil didunia tulis menulis, menjadikan kita bisa mengikuti, meniru dan memodifikasi gaya dan cara dia menulis sebutlah dengan cara amati, tiru dam modifiksi (ATM), yang selanjutnya dapat kita padukan dengan gaya kita sendiri, kebiasaan kita dalam emulia dan cara kita sendiri dalam menulis. Dengan banyak teman kita menambah ilmu diri kita sendiri.

 

Memiliki Motivasi dan Kemauan.

1)   Motivasi adalah langkah pertama ke arah pencapaian.

Motivasi adalah kunci yang membuka pintu untuk menuju pencapaian kita. Motivasi adalah apa yang membuat Anda mulai melangkah, sedangkan komitmen adalah apa yang membuat kita terus melangkah. Sekelompok team sales yang dimotivasi biasanya pencapaiannya lebih tinggi dibanding para sales yang hanya dibiarkan jalan sendiri. Seorang penulis yang memiliki motivasi belajar tentu lebih baik dibanding tidak memiliki motivasi. Begitu juga dalam menulis dengan penuh motivasi yang tinggi tentu lebih baik dibanding hanya dengan motivasi yang rendah.

2)   Motivasi meningkatkan kemauan. 

Orang biasanya gagal bukan karena kurang kemampuan atau kurang pengetahuan, melainkan biasanya karena kurang kemauan. Dengan adanya motivasi dalam diri seseorang maka kemauan seseorang dapat ditingkatkan. Orang-orang yang cukup termotivasi biasanya akan menemukan kekuatan kemauan muncul dalam diri mereka. Kemauan yang kuat ini akan menjadi dorongan yang kuat dalam untuk mencapai sukses dalam menulis.

3)  Motivasi memberikan tenaga ekstra. 

Kita sering menyebut orang lain bertenaga tinggi atau bertenaga rendah berdasarkan seberapa banyaknya hal yang mereka lakukan. Menurut saya mungkin lebih tepat jika kita menyebutkan mereka mempunyai motivasi tinggi atau motivasi rendah. Jika Anda mempunyai motivasi, Anda pasti mempunyai tenaga ekstra. Motivasi memberi Anda kekuatan untuk melakukan banyak hal. Motivasi adalah alasan mengapa selalu ada hal-hal yang saya ingin kerjakan, orang-orang yang saya ingin temui, dan sasaran-sasaran yang ingin saya capai.

4)  Motivasi adalah dasar untuk keunggulan. 

Motivasi bisa mengubah seseorang dari keadaan biasa-biasa menjadi unggul. Saat kita menemukan tujuan hidup, kita menemukan motivasi. Dan saat kita menemukan motivasi, kita bisa mencapai keunggulan.

5)   Motivasi adalah kunci menuju keberhasilan. 

Saya meyakini api motivasi dalam diri manusia menjadikan hal mendasar untuk mencapai keberhasilan. Kita dapat melihat bagaimana para penulis yang sukses melakoni kegiatan menulisnya, biasanya motivasi adalah salah satu faktor di balik keberhasilan mereka.

Itulah deretan makna yang dapat saya singkap pada kuliah kali ketiga grup belajar menulis gelombang ke-16 ini. Sungguh memberi warna tersendiri dalam kegiatan pemula mau menjadi seorang penulis.















Komentar

  1. Keren banget! Resume yang lengkap dan mantap. Sukses, Pak!

    BalasHapus
  2. Terima kasih sudah mengerjakan tugasnya dengan sangat baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. mksi semangat Omjay. dorongan dan motivasi omjay tetap saya harapkan. mksi Omjay

      Hapus
  3. Kereeen resumenya, impresi sudah ikutan di dlmya...
    Tp hati2 ada kata yg salah ketik dan bikin senyum2 sendiri bacanya...
    Semangat kita sukses bersama

    BalasHapus
  4. Top puanjaaang,,, bagus, salam sukses

    BalasHapus
  5. Mantapz bgt pa.. sy sangaat suka bacanya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KIAT SUKSES PEMASARAN BUKU DI MASA COVID-19

MENJALANI KEWAJIBAN

TUNTAS MENULIS DENGAN SIKAP “CUEK”